UASBN / UAN merupakan hal yang sangat berperan dalam sistem pendidikian di Negara kita pada masa sekarang ini. Baik dari jenjang sekolah dasar sampai pada perguruan tinggi. Pelaksanaannya pun hampir serentak di seluruh wilayah Indonesia. Bukan hanya itu, kerahasiaan pun dijaga sangat super ketat untuk menghindari penyimpangan kebocoran yang mungkin terjadi.
Walaupun UASBN /UAN masuk dalam system pendidikan kita, ini bukan berarti sempurna dari segala hal. Memang benar UASBN/UAN dapat berperan sebagai alat ukur keberhasilan proses pembelajaran secara nasional. Pemerintah pun dapat dan berhak melaksanakannya sehubungan dengan pengeluaran dana yang super banyak pula. Tetapi pastinya UASBN/UAN hanyalah suatu alat ukur yang bersifat kognetif saja?
Dampak negatif pelaksanaan UASBN/UAN dapat dilihat dari berbagai hal. Yang paling nampak adalah dalam proses pembelajaran itu sendiri. Bayangkan saja, setelah muncul SKL mata pelajaran yang akan diujikan, seakan berbalik 1800, guru berlomba dalam pemadatan mata pelajaran tersebut. Bahkan mata pelajaran yang tidak di UASBNkan seakan dipasung dan dianaktirikan. Walaupun tidak semua sekolah memiliki karakter seperti itu, tetapi itu Nampak sekali terihat pada sekolah dijenjang sekolah dasar. Para guru seakan lupa dengan tujuan pembelajarn yang sesungguhnya.
Dalam hal ini, guru pun tidak boleh disalahkan 100%. Guru melakukan semua itu karena guru sudah masuk dalam system tersebut. Perlu diingat, hasil UASBN bagi anak sangat menentukan masa depan siswa. Nilai yang tidak memenuhi standar maka gagallah siswa melanjutkan ke sekolah idolanya. Hal inilah yang membuat guru berbondong memburu SKL dengan sedikit mengabaikan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Rasa malupun dapat timbul jika hasil yang dicapai anak didiknya kurang memuaskan. Akankah ini berlanjut terus? Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar