DILEMA SANG BOS


Kata BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sudah sangat melekat di masyarakat khususnya orang tua murid SD maupun SMP. Dengan adanya BOS maka beban meraka menjadi sangat ringan khususnya biaya pendidikannya.
Secara umum program BOS bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun.
Sedangkan tujuan khususnya program BOS adalah:

1) Menggratiskan seluruh siswa miskin di tingkat pendidikan dasar dari beban biaya operasional sekolah, baik di sekolah negeri maupun sekolah swasta.
2) Menggratiskan seluruh siswa SD negeri dan SMP negeri terhadap biaya operasional sekolah, kecuali pada rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI).
3) Meringankan beban biaya operasional sekolah bagi siswa di sekolah swasta.
            Apapun itu tujuannya, BOS tidaklah terlaksana dengan mulus. Berbagai gendala selalu saja muncul. Bukan saja terjadinya penyimpangan pelaksanaanya, Namun juga munculnya akibat baru yang mungkin belum pernah dipridiksi sebelumnya.
            Ibarat sebuah masyarakat yang ingin membangun jalan desa. Jalan tersebut dibangun atas biaya sendiri dari warga. Dibangun dengan gotong royong tanpa upah. Lalu apa sikap masyarakat setelah jalan tersebut jadi? Bisa dibayangkan, mereka akan menjaganya sekuat tenaga. Bahkan mungkin mobil bermuatan berat  tidak boleh melewati jalan tersebut demi menjaga keberadaan jalan tersebut.
            Bagaimana pula jika jalan tersebut 100 % dibangun dan dibiayai pemerintah? Hampir dipastikan sikap warga akan lain. Mereka akan lebih memberi peluang siapapun boleh mengakses jalan tersebut. Toh seandainya rusak nanti pemerintah sendiri yang akan memperbaikinya.
            Dua hal tersebut menunjukkan adanya rasa memiliki dan tidak memiliki. Siapapun yang telah mengeluarkan biaya akan lebih merasa memiliki dibandingkan dengan yang tanpa mengeluarkan biaya/tenaga. Itulah gambaran BOS yang terjadi di masyarakat. Pihak sekolahlah yang sangat merasakan. Siswa atau orang tua siswa teramat berbeda sikapnya atau penghargaanya terhadap pendidikan apabila dibandingkan antara sebelum ada BOS dan setelah adanya BOS. Rasanya hal ini sulit jika diceritakan tetapi sangat mudah dirasakan.
             Contoh kecil yang menunjukkan rasa memiliki terhadap pendidikan itu sendiri dan yang kami rasakan adalah sebagai berikut,  Sebelum adanya BOS, siswa/orang tua siswa harus mengeluarkan uang untuk mencukupi biaya pendidikan. Di samping itu juga harus mencukupi kebutuhan pendidikannya sendiri seperti buku-buku dan lain sebagainya. Berapa besar biaya tersebut kenyataannya dapat terpenuhi lengkap. Hal lain terjadi justru setelah BOS digulirkan pemerintah. Jarang sekali ditemui siswa dengan perlengkapan buku yang komplit padahan dari segi finansia mereka kaya atau mampu. Mereka menganggap bahwa buku dari sekolah saja sudah cukup. Sungguh memprihatinkan. Ini hanya salah satu contoh saja. 
Memang inilah resiko yang sama sekali tidak pernak diprediksikan. Semoga pendidikan kita tetap jaya. Insya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar